Mengapa Tayangan Televisi Semakin Tak Bersahabat dengan Anak-anak?

BUDAYA menonton televisi memang sudah menjadi konsumsi masyarakat kita. Saat ini televisi sudah dijadikan sebagai salah satu kebutuhan pokok. Tidak peduli orang tua atau muda, dari kalangan atas atau kalangan bawah, masyarakat di pedesaan ataupun di perkotaan, semuanya pasti pernah menonton televisi.

Dengan menonton kita bisa mendapatkan hiburan, mendapatkan informasi, terkadang juga terdapat sisi edukasi didalamnya. Sejak pertama kali dikembangkan, televisi mampu memberikan dampak bagi perkembangan informasi di kalangan masyarakat. Bahkan setiap tanggal 21 November diperingati sebagai hari televisi sedunia.

Keberadaan televisi di Indonesia itu sendiri telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat kita. Televisi dengan berbagai macam program acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat bagi pemirsanya.

Menurut data yang dikeluarkan BPS tahun 2009, menunjukkan bahwa orang Indonesia untuk mendapatkan informasi baru dengan melakukan kegiatan menonton televisi sebesar 85,9 persen, sedangkan membaca sebesar 23,5 persen, dan mendengarkan radio sebesar 40,3 persen dari total penduduk Indonesia.

Dapat dilihat dari data tersebut bahwa intensitas kegiatan menonton televisi masyarakat kita masih tinggi dibanding kegiatan membaca buku dan mendengarkan radio. Karena itulah, tidak heran jika berbagai stasiun televisi berlomba-lomba untuk menarik sebanyak mungkin perhatian penontonnya. Berbagai program bermunculan, mulai dari siaran berita, siaran olahraga, acara bincang-bincang (talkshow), acara pertunjukan musik (music show), hingga berbagai drama yang terus wara wiri menghiasi berbagai stasiun televisi.

Satu di antara program yang akhir-akhir ini banyak disorot adalah sinetron. Berdasarkan opini yang berjudul “Menelaah Dampak Buruk Sinetron”, yang ditulis oleh Miftahul Najah dalam situs Geotimes. Pengertian sinetron adalah program drama bersambung diproduksi dan ditayangkan di stasiun-stasiun televisi Indonesia (Salam,2016). Sinetron menjadi tontonan yang digemari banyak kalangan mulai dari anak-anak hingga orang tua. Muatannya yang sarat akan kehidupan membuat sinetron mudah dinikmati dan dirasa berhubungan dengan kehidupan oleh para penontonnya.

Kebanyakan tema sinetron di Indonesia diwarnai konten tentang cinta antara laki-laki dan perempuan atau balas dendam yang melahirkan kekerasan (Diahloka, 2012). Selain itu, menurut Azwar dkk (2019), sinetron yang ditayangkan di Indonesia masih banyak yang menggunakan konten negatif, lantas melupakan fungsi sebagai pemberi hiburan dan justru menimbulkan keresahan serta ketegangan sosial. Konten negatif lebih diminati karena menjadikan penonton merasa emosional sehingga hanyut dalam cerita yang ditayangkan.

Bahkan sampai saat ini, ada beberapa sinetron yang menjadi program andalan stasiun televisi, karena selama penayangannya mampu memberikan rating tinggi bagi stasiun televisi tersebut. Hal ini tentu saja akan menambah pundi-pundi uang baik untuk rumah produksi ataupun stasiun televisi yang menayangkannya. Umumnya penonton sinetron adalah ibu rumah tangga, namun tidak jarang anak-anak juga ikut menontonnya. Padahal konflik yang disajikan dalam sinetron terkadang membuat geleng-geleng kepala, terlalu tidak masuk akal dan di luar nalar, konfliknya terlalu dibuat berlebihan sehingga menimbulkan emosi bagi yang menontonnya. Lebih lanjut sinetron sarat akan hal-hal negatif yang membuat penontonnya bisa meniru adegan yang diperlihatkan.

Hal inilah yang membuat iba sekaligus prihatin, anak-anak yang seharusnya disajikan tontonan yang mengedukasi, tapi dicekoki dengan hal seperti ini. Sekarang yang jadi pertanyaannya, apakah tidak ada tayangan yang bisa disaksikan anak-anak ini?. Jawabannya tentu ada. Akan tetapi, saat ini tontonan untuk anak-anak itu tidak seramai seperti awal awal adanya stasiun televisi terbentuk. Sekarang hanya beberapa stasiun televisi yang masih menyajikan tayangan untuk anak-anak, walaupun jam penayangannya tidak seramai dulunya.

Penulis ingat jelas ketika masih bersekolah disekolah dasar dulu, Hari Minggu adalah hari yang paling menyenangkan dan ditunggu-tunggu. Kenapa tidak? Dari pagi hari sampai siang tayangan televisi penuh dengan acara untuk anak-anak. Selain itu, momen liburan juga tidak kalah menyenangkan, karena selama waktu itu banyak program untuk anak-anak yang disajikan stasiun televisi. Namun sekarang program televisi tidak lagi memprioritaskan itu, mereka hanya mengejar rating tertinggi, meraih penonton sebanyak mungkin. Terkadang acara televisi sekarang ini malah menyajikan ujaran kebencian, pertengkaran, dan tidak jarang pem-bully-an yang disajikan dalam bentuk candaan dan guyonan. Dan lucunya acara seperti ini malah disenangi, bahkan tak jarang menjadi trending.

Sebenarnya siapa yang salah? Stasiun televisi atau justru masyarakat kita yang sudah tidak mempedulikan apakah tayangan tersebut layak disaksikan, khususnya bagi anak-anak. Miris rasanya saat perlahan-lahan anak-anak tidak lagi mendapatkan haknya untuk tontonan yang sepatutnya mereka saksikan. Anak-anak terkesan dipaksa untuk melihat tayangan yang sebenarnya belum saatnya mereka tonton. Anak-anak yang belum paham akan makna tontonan ini, perlahan lahan akan meniru dan mempraktikkannya dalam kehidupannya.

Contohnya, beberapa tahun yang lalu sempat ada tayangan sinetron di sebuah televisi swasta yang menampilkan adegan pemerannya naik motor sambil kebut-kebutan dan perkelahian antar geng motor. Tak jarang, anak-anak mulai menirunya dan kebut kebutan di jalan raya, supaya tampak keren seperti pemeran dalam sinetron tersebut.

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan pemberitaan bahwa satu di antara pemain sinetron yang tayang di sebuah stasiun televisi diduga melibatkan anak di bawah umur, untuk memerankan karakter salah satu istri. Aktris atau pemeran ternyata masih berusia di bawah 17 tahun dan harus memaikan adegan dewasa sebagai seorang istri yang dinilai tidak sesuai dengan usiannya.

Selain itu terdapat adegan yang tidak sepantasnya dipertontonkan, apalagi di jam anak-anak masih bisa menontonnya. Banyak warganet yang menunjukkan kekecewaanya dan meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk segera bertindak agar menghentikan tayangan tersebut. Bahkan seorang warganet bernama Alyzza membuat petisi, menurutnya sinetron ini seolah mempromosikan pedophilia Menurutnya, lagi tidak sepantasnya seorang aktris di bawah umur memerankan karakter dewasa, terlebih lagi karakter yang sudah berkeluarga.

Dalam hal ini, bukan ingin mengkritisi daya imajinasi dan kreativitas dari pembuat karya untuk menghidupkan karyanya. Yang patut diperhatikan adalah jam penayangannya untuk acara seperti ini, di mana anak-anak masih bebas menontonnya. Sebagai pengelola, pihak stasiun televisi seharusnya dapat menghadirkan program yang mampu berkontribusi dalam mendukung perkembangan pengetahuan, informasi, dan penguatan moral bagi masyarakat.

Selain itu, pemerintah punya andil besar untuk memberikan izin apakah tayangan tersebut layak diputar di jam jam tersebut. Yang paling utama adalah peran orang tua. Mereka harusnya menjadi orang pertama yang membatasi apakah tayangan tersebut layak untuk putra putri mereka. Jika tidak, maka jangan segan-segan untuk memberikan larangan dan carilah alternatif lain sebagai hiburan untuk mereka.

Dan terakhir yang tidak kalah penting, adalah peran pendidik untuk selalu memberikan edukasi dan arahan agar anak-anak ini bisa mengetahui mana yang boleh mereka lakukan dan mana yang tidak. Anak anak adalah harta yang tiada ternilai harganya. Dengan saling mendukung dan bergandengan tangan, marilah kita bersama sama menyelamatkan generasi muda penerus bangsa. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *