Mendampingi Anak Agar Tak Gabut

PANDEMI belum berakhir, Harapan sekolah bisa memulai tahun ajaran baru dengan sistem tatap muka langsung mulai pupus akibat meningkatnya kasus Covid-19 di berbagai tempat seperti Jakarta, Kudus dan Bangkalan serta berbagai daerah lain di Indonesia.

Orangtua pun mau tidak mau harus siap kembali mengawal pembelajaran anaknya dengan sistem daring, padahal untuk siswa baru alih jenjang seperti TK ke SD, SD ke SMP bahkan SMP ke SMA, ini bukanlah hal mudah. Tidak semua orang tua paham target materi dari kurikulum pendidikan. Namun bagaimanapun juga, orang tua perlu menyikapi perubahan era baru ini dengan bijaksana tanpa kehilangan orientasi.

Memahami pandemi ini, entah rekayasa atau bukan namun yang pasti semua yang terjadi tidak terlepas dari takdir Allah SWT. Manusia berkewajiban berupaya dan melakukan adaptasi agar berbagai hal tetap bisa terlaksana. Muncullah sistem pembelajaran online alias daring (dalam jaringan), diantaranya sekolah online, webinar, kelas online, KKN Online sampai kuliah online yang semuanya merupakan metode belajar dengan model interaktif berbasis internet dan Learning Management System (LMS), seperti menggunakan Zoom, Google Meet, dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, sekolah daring sering memuat anak boring (bosan). Waktu belajar yang biasanya pagi sampai siang di sekolah bahkan sampai sore untuk Full Day School menjadi berkurang hanya beberapa jam sehari.

Meski banyak pekerjaan rumah (PR) tetap saja menyisakan waktu luang yang lebih banyak dari sekolah normal. Akhirnya anak-anak menjadi kaum rebahan, main gawai, game online,chatting-an enggak jelas, membuka semua aplikasi WhatssApp, Instagram, YouTube, TikTok-an hampir seharian penuh.

Gabut, demikian istilahnya dalam bahasa gaul anak milenial. Arti gabut sebenarnya akronim dari gaji buta. Namun dalam bahasa gaul berarti orang yang tidak melakukan aktivitas apapun dan bingung ingin melakukan apa.

Gabut kadang juga disebabkan banyaknya beban yang diterima anak di masa pandemi. Tugas sekolah yang menumpuk sementara sarana untuk berkomunikasi dengan guru terbatas jaringan dan kuota. Akhirnya anak merasa “stres” dan melarikan diri dari tanggung jawab dengan cara berselancar di dunia maya dengan gawainya.

Bagi anak-anak yang tinggal di pedesaan, mungkin fenomena gabut tidak akan separah anak-anak diperkotaan. Di desa mereka masih bisa bermain di halaman, berkebun, serta mengasah keterampilan dengan membuat prakarya dan lain sebagainya. Sementara di perkotaan, lingkungan yang terbatas makin membuat anak-anak merasa terkungkung dan tidak bisa bebas berekspresi.

Fenomena gabut ini perlu diwaspadai oleh para orang tua sebab hal ini bisa mengakibatkan anak-anak kehilangan arah dan bereksperimen dengan hal-hal negatif. Tontonan yang mereka lihat melalui gawainya jika tidak difilter akan menjadi racun bagi jiwa mereka. Padahal mereka adalah generasi penerus bangsa dan mereka harus dipersiapkan sejak sekarang baik sisi mentalitas, intelektualitas maupun kapabilitasnya. Kerugianlah bagi kaum yang membuang waktu hidup dengan sia-sia tanpa karya produktif. Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (TQS Al Ashr: 1-3)

Belajar adalah kewajiban bagi setiap individu. Khusus bagi yang beraqidah Islam, pelaksanaan kewajiban belajar diyakini sebagai ibadah yang akan berbuah pahala yang besar selama diniatkan lillah karena Allah Ta’ala. Belajar di sekolah maupun di rumah sama saja bisa menjadi amal shalih bagi pelakunya. Kesadaran ini perlu dibangun dalam diri anak agar mereka selalu bersemangat dalam beramal.

Masa pandemi yang mengharuskan banyak di rumah adalah kesempatan berharga bagi keluarga untuk mendekatkan diri satu sama lain dengan saling menguatkan sisi aqidah dan ilmu. Ilmu adalah penuntun amal. Orangtua sebagai contoh teladan terdekat bagi anak harus menjadi model terbaik dalam keseharian. Anak-anak yang sehari-hari melihat orang tua bersahabat dengan buku-buku, banyak membaca tafsir Al-Qur’an, kitab-kitab hadits, sirah dan buku-buku bermanfaat lainnya cenderung akan menyukai buku. Anak akan ikut terbiasa dan akhirnya mencintai membaca. Bila pintu ilmu terbuka, maka amal shalih berikutnya akan lebih mudah

Berbeda bila sehari-hari anak melihat orang tua sibuk dengan HP-nya. Anak akan sulit diarahkan untuk belajar meskipun hanya mengulang materi sekolah di hari yang sama. Memunculkan tanggung jawab pada anak pun akan sulit. Bagi yang tidak biasa membaca, selembar tulisan terasa sangat menjemukan, Padahal membaca dan ilmu bagai olahraga dan nutrisi bagi tubuh seorang.

Peran orangtua lainnya adalah memberikan waktu kepada anak untuk bekarya dengan gadgetnya. Anak diberi kesempatan menuangkan apa saja yang telah dipelajarinya dari membaca. Bisa dengan membuat tulisan atau video berisi konten-konten positif yang bisa menginspirasi banyak orang. Menebar kemanfaatan melalui dunia berjejaring digital menembus batas ruang dan waktu. Dan semuanya tentu saja dilakukan dengan tanggung jawab dan dalam pengawasan orangtua.

pandemi tak akan selamanya. Yakinlah bahwa ada kuasa Allah SWT di atas segalanya. Tetaplah berpikir positif bahwa masa ini Allah SWT hadirkan untuk menjadikan rumah sebagai kawah candradimuka untuk menempa pribadi-pribadi calon pengemban amanah di masa depan. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *